Kadang aku berpikir, apakah Tuhan itu ada? Benarkah DIA baik? Tapi kenapa jika DIA baik, mujizat itu tidak terjadi kepada Leon, anak pertama kami yang masih berusia 8 bulan.
Jika DIA ada, kenapa anak lain mendapat mujizat kesembuhan itu, sementara Leon tidak?
Jika memang Tuhan baik, kenapa DIA begitu cepat mengambil Leon dari hidup kami.
Katanya Tuhan mendengar doa umatNYA yang sungguh-sungguh mencari DIA, tapi kenapa doaku tidak didengar? Apakah aku terlalu berdosa sehingga DIA tidak berkenan mendengar dan mengabulkannya.
Pertanyaan diatas sering sekali muncul dalam benakku pada awal kepergian Leon. Kenapa kenapa kenapa dan kenapa!! Ya, ternyata Tuhan memang tidak bisa diselami oleh keterbatasan manusia.
Pada akhirnya aku paham betul, bahwa memang Tuhanlah penulis kehidupan kita. DIA yang menentukan segala cerita kehidupan yang kita alami.
CHAPTER 1
SURPRISE!!! Welcome baby Leon
Kelahiran Leon adalah kelahiran yang ditunggu-tunggu oleh kami berdua dan keluarga besar kami.
CHAPTER 2
Jika DIA ada, kenapa anak lain mendapat mujizat kesembuhan itu, sementara Leon tidak?
Jika memang Tuhan baik, kenapa DIA begitu cepat mengambil Leon dari hidup kami.
Katanya Tuhan mendengar doa umatNYA yang sungguh-sungguh mencari DIA, tapi kenapa doaku tidak didengar? Apakah aku terlalu berdosa sehingga DIA tidak berkenan mendengar dan mengabulkannya.
Pertanyaan diatas sering sekali muncul dalam benakku pada awal kepergian Leon. Kenapa kenapa kenapa dan kenapa!! Ya, ternyata Tuhan memang tidak bisa diselami oleh keterbatasan manusia.
Pada akhirnya aku paham betul, bahwa memang Tuhanlah penulis kehidupan kita. DIA yang menentukan segala cerita kehidupan yang kita alami.
CHAPTER 1
SURPRISE!!! Welcome baby Leon
![]() |
| 8 Juli 2018 // SC // 3,29kg // 50cm // RSUD Dr. Soetomo Surabaya |
Namun kelahirannya juga membuat keluarga kaget, karena maju dari jadwal operasi. Seharusnya dia lahir 10 Juli, tapi karena kontraksi akhirnya anak ini lahir 2 hari lebih awal dari jadwal.
Lucunya, sepertinya memang Tuhan dari awal yang mengatur skenario kelahiran anak ini.
Sebagai orang tua, kami ingin melahirkan anak ini di RS swasta yang punya nama cukup baik di Surabaya, meski menggunakan BPJS.
Segala prosedur sudah kami ikuti, dan tinggal menunggu kelahiran anak ini tanggal 10 Juli 2018 hari Selasa.
Minggu 8 Juli 2018 jam 2 pagi tiba-tiba aku merasakan kontraksi. dan jam 3 atau 4, ada darah yang keluar.
Saat di RS swasta tsb, kami mendapati info kalau hari Minggu BPJS tidak berlaku disana, kecuali di RS Pemerintah.
Sebelnya lagi, dokter spog yang seharusnya menangani kelahiran ini, posisi beliau ada di luar kota dan ada di Surabaya Minggu sore.
Mengingat aku positif preklamsia, dokter spog menganjurkan untuk segera dilahirkan hari itu juga, dan dirujuk ke RS lain, lebih tepatnya RS Pemerintah.
Gak bisa dipungkiri, image RS Pemerintah itu masih buruk di benak masyarakat. Kalo bisa ya jangan donk Tuhan lahir di RS Pemerintah.
Oya, kami bukan keluarga kaya, di RS swasta tsb jika kelahiran hari Minggu apalagi ada riwayat preklamsia, biaya perkiraannya mulai 35 juta. Ha ha ha..
Duit macam mana pula itu 35 juta. Punya uang 10 juta yang berhasil mendekam lama di rekening aja belum pernah.
Suami dan suster mencoba telpon semua RS di Surabaya, mulai dari yang RSIA, RS tanpa BPJS semua menolak. Ada aja alasannya yang ga ada NICU lah, NICU full lah..
Intinya kami saat itu benar-benar GAK MAU LAHIRAN DI DR SOETOMO!! PLIS GAK MAU!!
Susternya bilang RSAL aja atau Soewandi, pilihan terakhir lahir di Dr Soetomo.
Ok. Intinya semua RS menolak dan cuma RS Dr Soetomo yang mau menerima.
Kecewa? Pasti.. Apa coba maksud Tuhan, sudah dibilang aku tu ga mau lahiran di RS itu.
Tapi sudahlah, yang penting anak ini lahir selamat.
Kelahiran Leon bener-bener diluar dugaan, saat proses sesar suami ga boleh mendampingi, dokternya juga ga kenal siapa dia. Saat itu aku benar-benar pasrah dan berserah.
Jam 20.30 lahirlah bayi lucu yang kami beri nama Leon Ivander Wiyanto.
Leon berarti singa. Kami pengen anak ini nantinya tumbuh menjadi anak yang kuat dan pemberani.
Ivander artinya anak laki-laki terbaik dari Tuhan.
Wiyanto ya nama keluarga dari suamiku.
Leon lahir sehat, gendut, lucu.
Chapter kelahiran itu kututup dengan rasa syukur, ternyata Tuhan menggenapi firmanNYA.
| Wefie pertama sebagai keluarga. |
| Berjemur dulu gaes |
| Sama Bobo |
| Like Father Like Son |
| Pertama kali ngemall ke TP tanggal 17 Agustus 2018 |
| Foto sama Emak |
CHAPTER 2
Suara dari Tuhan
Seiring berjalannya waktu, baru kusadari pada usia 2 minggu, Leon kehilangan suaranya.
YA!! HILANG! Anak ini yang biasanya menangis keras, sekarang kalau nangis kayak orang bisik-bisik. Lirih dan lemah. Sangat menyayat hati.
Kami membawa ke dokter spesialis anak yang sedang naik daun di Surabaya.
Leon didiagnosa radang tenggorokan.
Kami diberi obat antibiotik, tapi obat abis suaranya belum kembali.
Usia 2 bulan kami memutuskan ke THT.
Lagi-lagi ke dokter THT terbaik di Surabaya.
Sampai sana rasa penasaran kami terjawab.
Dokter mendiagnosa anak ini laringomalasia, tidak ada obatnnya, nanti sembuh-sembuh sendiri seiiring kuatnya tulang dan otot anak ini. Biasanya usia 1-2 tahun keatas suaranya bisa kembali normal.
Mendengar diagnosa seperti itu kami sangat senang, karena setelah kami baca di google lumayan banyak anak yang terkena laringomalasia dan suaranya muncul sendiri ga perlu obat.
Tuhan sangat baik.
Saat itu aku lagi mandi, dan terdengar suara tangisan bayi cukup keras.
'Masak itu suaranya Leon??? Kayaknya enggak deh.. Mungkin aku yang halu' pikirku saat itu.
Selesai mandi, semakin langkahku dekat dengan kamar, semakin jelas suara itu terdengar.
Saat kubuka pintu kamar, Tuhan Yesus baik!
LEON MENANGIS!!! SUARANYA KERAS DAN NORMAL!!
Tidak perlu menunggu sampai tahunan, karna usia 3 bulan Leon mendapatkan suara yang baru dari Tuhan.
Sayang sekali video suara Leon yang lirih menyayat hati terhapus,
CHAPTER 3
TUHAN JANGAN BERCANDA DONK!!
Semenjak Leon punya suara lagi, anak itu jadi hobi menangis.
Tiada hari tanpa menangis.
Apalagi kalau anak ini menangis, cuma mau aku yang gendong.
Sementara dari lahir, anak ini ga mau nenen langsung, maunya pakai botol.
ASI yang awalnya deras, menjadi sedikit karena jadi jarang mompa.
Sejak umur 3 bulan juga Leon mulai minum sufor, karena asiku tidak cukup.
Anak itu lebih banyak menangis daripada diemnya.
Kami sudah sering ke Dsa yang lagi naik daun itu.
Setiap kami tanya kenapa dengan Leon? Makin lama makin kesusahan menyusu, menangis bisa berjam-jam. Dan nafasnya cepat sekali. Kalau nafas kenapa dadanya jelong jelong.
Dokter bilang gapapa. Masih pembentukan kalau soal nafas.
Soal ga mau nyusu, dokter menyalahkanku karna pakai sufor, seharusnya full asi aja.
Oh helo dokter dan netijen yang budiman.. Tidak semudah itu memberi asi jika anakmu hanya mau sama kamu, dan sepanjang hari selalu menangis. Coba bayangkan kapan waktu untuk pompa??
Ya memang aku masih melakukan kegiatan pompa asi, tapi hasilnya ga cukup jika maksain full asi.
Soal menangis, dia bilang muungkin kolik. MUNGKIN.
Ok. Kami pulang dengan misteri yang belum terpecahkan.
Beberapa hari kemudian, tangisan Leon semakin parah,
Sama sekali ga mau minum susu.
Nangissssss terus..
Emaknya ngamuk dan nyuruh bawa ke Profesor anak yang terkenal di Surabaya.
Dari situlah dokter bilang suara jantungnya Leon bising, dan dibuatkan rujukan untuk echo ke dokter jantung anak.
Lemes?
Pasti..
APA TUHAN MAKSUD SEMUA INI! JANGAN BERCANDA DONK!!
Kami ga punya riwayat sakit jantung, sejak dari dalam kandungan, spog juga tidak menemukan kelainan.
OH STRESNYA DIRIKU!!!
Atas saran teman, besoknya kami membawa Leon ke dokter lain.
Ya, sebagai orang tua kami juga berharap diagnosa Prof tsb salah.
Dokter anak berikutnya, sengaja kami ga cerita kalau Leon kemarin habis didiagnosa bising jantung.
Karna kami pengen tau diagnosa dia apa. Plis katakan anak ini kolik. Plis plis plis...
Saat dokter membuka baju Leon, dengan suara nyaring dan kaget beliau berkata "SAYA RASA INI BUKAN KOLIK, BUKAN LARINGOMALASIA, INI KELAINAN JANTUNG!! DADA KIRI MENONJOL DARI KANAN! SAYA RASA INI SUDAH MULAI PARAH! KENAPA BISA BARU KETAHUAN SEKARANG? APA KALIAN TIDAK PERNAH KE DOKTER???"
Pada saat itulah hatiku hancur.
Kenapa harus Leon. Kenapa gak jantungku aja yang bocor.
Malam itu juga Leon dirujuk harus echo jantung, ga boleh nunda, ga boleh cari dokter lagi.
Ya..
Kebahagiaan itu hancur seketika. Orang tua mana yang berbahagia saat dokter berkata bayimu bocor jantung.
Sekarang aku hanya bisa berharap kalau bocor jantungnya tidak separah yang dsa katakan.
Keluarga membesarkan hati dengan cerita-cerita bahwa buanyak anak bocor jantung yang bisa menutup sendiri tanpa operasi. Mereka menguatkan, mereka memberi support. Leon pasti sembuh tanpa operasi karena banyak yang seperti itu.
![]() |
| Hasil echo, VSD PM Besar 5-6mm |
Tuhan..
Kenapa harus aku dan Leon.
Teman-temanku bayinya sehat.
Kami sama sekali buta degan cara merawat anak bocor jantung.
Kami mencari di forum, banyak forum yang tidak aktif.
Sungguh sedih sekali.
Dokter bilang VSD ini paling sering dijumpai dalam kasus jantung bocor.
Ada yang bisa sembuh nutup sendiri, ada yang harus dioperasi.
Untuk kasus Leon, lubangnya tergolong besar, sangat kecil kemungkinan untuk menutup sendiri.
Tapi imanku memutuskan membawa dalam doa.
Sekecil apapun harapan bagi manusia, jika kutaruh dalam Tuhan pasti ada mujizat. PASTI!
Leon menjalani pengobatan untuk meringankan kerja jantungnya.
Sejak dia minum obat jantung, kondisinya pelan-pelan membaik,
Dia mulai bisa menyusu meski sedikit dan masih kepayahan.
Berat badan Leon tidak naik.
Dokter jantung menyarankan susu Infatrini.
Mahale ya Tuhan.. 1 kaleng bisa 200ribuan waktu itu,
Ya, Tuhan itu bercanda kok.
Sudah tau kami bukan keluarga kaya.
Susu Infatrini habis dalam waktu 1 mingguan.
Belum lagi biaya dokter jantung yang hampir setengah juta sendiri.
Tapi kesembuhan anak adalah yang utama.
Segala yang terbaik kami berikan.
Doa pun selalu terpanjatkan agar selau ada jalan dan mujizat.
Pelan-pelan kondisi Leon membaik.
Tapi hanya sampai umur 4 bulan menjelang 5 bulan.
Lagi lagi Tuhan bercanda dengan kami.
LEON TERKENA PNEUMONIA.
Oh Haleluya.. Kenapa hal baik mampirnya cuma sebentar??
CHAPTER 4
Pelangi Sehabis Hujan
Pneumonia menyerang Leon, dan kata dokter jantungnya, memang anak yang punya kelainan jantung bocor sangat rawan terekna infeksi paru alias pneumonia.
Leon dirawat di RS kurang lebih 10 hari.
Bahkan berulang bulan yang ke 5 di RS.
Tuhan menyatakan mujizat dan penyertaanNYA.
Anak ini berhasil sembuh.
Sejak hari itu tiba, kami merasakan mujizat Tuhan begitu nyata.
Anak ini berkembang pesat, sangat sangat sehat.
Bahkan ketika serumah bapil, cuma Leon yang ga bapil.
Timbangan Leon juga mulai naik.
Saat MPASI, Leon makan sangat lahap dan gampang. Jarang banget GTM.
Saking doyannya dia makan, BB Leon naik 800gr, dan dokter sangat terkejut.
Rekor!! Untuk anak kelainan jantung bocor dalam sebulan bisa naik hampir 1kg itu mujizat.
Tidak berhenti doa terus kami panjatkan, semakin kesini semakin besar iman kami bahwa anak ini pasti sembuh tanpa operasi.
Satu per satu berita gembira muncul di group WA.
Oya akhirnya kutemukan sebuah forum aktif di FB bernama Little Heart Community, dan akhirnya join juga di grup WA.
Saat itu sering sekali di grup WA muncul berita kesaksian anaknya sembuh sendiri.
Merinding rasanya melihat kuasa Tuhan bekerja.
"Anak lain ditolong, Leon juga.
Bukankah Yesus ALLAH yang kusembah DIA adalah ALLAH yang hidup?!
Nyatakan kuasa mujizatMU Tuhan agar kesembuhan Leon menjadi kesaksian hidup bahwa keberadaanMU nyata. Tolong jangan permalukan kami Tuhan, karna di sosial media kami selalu gembar gembor bahwa Yesusku luar biasa"
Kir-kira setiap hari isi doaku seperti itu.
Sangat sangat ingin kejadian ini menjadi kemuliaan bagi namaNYA.
Sampai pada hari itu tiba, 1 April 2019.
Jadwal echo jantung yang ke 3.
Rangkuman hasil Echo.
Echo ke 1 usia 3 bulan awal ketahuan : 5-6mm
Echo ke 2 usia 5 bulan saat pneumonia : 6-6.6mm (membesar)
Echo ke 3? INI DIA
![]() |
| MENGECIL!! 4,4 - 5,1 mm. AMAZING!! |
Semakin kuyakin pasti menutup sendiri, apalagi status echo ke 3, dokter tidak menyarankan operasi lagi. Menunggu 3 bulan untuk echo berikutnya karena ada perkembangan.
Tuhan Engkau sungguh baik.
![]() |
| Bersama papa menunggu panggilan untuk Echo 1 April 2019 |
CHAPTER 5
LEON SEMBUH TOTAL
Disinilah Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNYA dengan cara yang berbeda.
Tanggal 1 April 2019, sepulang dari dokter, kami mendapati Leon mulai batuk batuk yang terdengar cukup sering.
Memang pada tanggal 31 Maret Leon mulai batuk tapi jarang-jarang.
Kebetulan dokternya mahal, sekalian aja aku minta sangu resep obat batuk pilek biar ga bolak balik lagi.
Waktu diperiksa, dokter bilang Leon ga bapil. Tapi sebagai mama yang 24 jam bersamanya, aku tahu anak ini mulai bapil.
Dokter memberikan obat batuk dengan syarat kalo memang batuk ya diminumkan obatnya.
Iyalah dok, Leon dari kecil sudah tuwuk obat, memberikan obat ke bayi itu hatiku miris. Kalo bisa tanpa obat ya malah seneng. Aku rasa ibu-ibu yang lain juga paling sedih kalau anaknya minum obat.
Malam itu Leon minum obat bapil dengan harapan bapilnya segera sembuh karena semakin malam semakin sering suara batuknya.
Tanggal 2 April 2019, batuknya semakin parah. Ngikil terus kalo kata wong jowo.
Semakin malam, semakin anak ini gak mau makan dan minum, terus-terusan batuk dan rewel. Dahak sepertinya kepingin keluar tapi selau tertelan.
Anak ini juga belum bab seharian.
Tanggal 3 April jam 1 subuh, kami ke IGD.
Sampai di IGD Leon hanya di uap. Padahal nafas grok groknya semakin parah dan bikin gemes kepengen banget liat anak ini muntah dahak biar lega.
Ada saran dari dokter IGD untuk diopname karena mengingat Leon punya VSD dan riwayat pneumonia.
Tapi RS tsb merujuk Leon ke RS lain tempat dimana dokter jantungnya Leon praktek.
Kami akhirnya ke RS tsb.
Disana Leon mulai demam. Sebelumnya dia gak demam.
Demamnya gak tanggung-tanggung! 39 drajat!
Sampai disana juga cuma di uap. Suami request untuk disedot tapi katanya ga perlu.
Leon dikasi obat penurun panas dari pantat. Panasnya turun 38 drajat dan kami disuruh pulang.
Kami minta opname katanya ga perlu, kami minta test lab juga ga perlu.
Intinya dokter IGD di RS rujukan itu, kondisi Leon masih dianggap wajar dan ga perlu tindakan lebih jauh.
Akhirnya jam setengah 7 pagi kami pulang dari RS itu.
Hanya bisa berharap anak ini membaik.
Tapi semakin siang anak ini demamnya naik lagi. Semakin lama semakin parah kalo saya lihat.
Akhirnya kuputuskan membawa Leon ke IGD RS lain, tempat dimana Leon dulu dirawat saat pneumonia pertama.
Ya, RS itu terkenal mahal. Posisi itu kami ga ada uang jutaan, di RS sebelumnya kami pakai BPJS.
Nafas Leon mulai sesak, dia mulai bernafas lewat mulut, alias nafas perut.
Sore hari tiba di IGD itu, ya ampun Leon langsung cepat tanggap diberikan penanganan tepat. Langsung di uap lalu dahaknya disedot keluar banyak sekali.
Test darah dan foto ronsenpun dilakukan.
Dokter IGD menyarankan Leon opname karena hasilnya anak ini terkena pnuemonia lagi.
Tapi, dokter juga menyarankan Leon masuk NICU karna nafasnya sesak.
Saat ke bagian admin, untuk masuk NICU harus deposit dulu 30 juta.
Oh helllooowwww!!!! 3 juta aja ga punya, 30 juta lagi.
Tuhan situasi apalagi ini.
Kenapa harus begini. Bukannya anak ini sehat? Kok cepet banget dropnya.
Pihak RS akhirnya tahu bahwa kami ga punya uang segitu banyaknya, dan mereka merujuk ke RS lain yang bisa bpjs (ya disana belum menerima BPJS)
Dokter IGD sangat baik banget, kami dbantu telpon ke RS lain yang NICU / PICU tersedia.
Sama halnya dengan kelahiran Leon yang ditolak dimana-mana, kali ini pun sama, Leon tertolak dimana-mana dengan alasan ruangan full.
Utang adalah 1-1nya jalan terakhir.
Biarlah utang, yang penting anak sembuh.
Tapi Tuhan menurunkan bantuanNya.
Dokter spesialis anak yang dulu merawat Leon waktu pneumonia pertama menelpon, setelah melihat hasil labnya Leon, beliau merasa ga perlu NICU karena saturasi dan lain2nya masih bagus.
Akhirnya Leon masuk ke Ruang Bayi.
Menurut pengalaman, ruang bayi itu gak boleh ditungguin. Suster yang jaga, tapi saya tahu bahwa susternya sangat telaten dan sabar. Melihat Leon masuk RS lagi, suster yang dulu merawat Leon sedih.
Terlihat dari raut wajahnya, lha dulu Leon pulang dari RS aja susternya ngajak foto-foto dan brebebes mili matanya
Biasanya kami disuruh pulang, tapi hari itu kami disuruh stay disana.
Kok ya kebetulan dokter anak malam-malam visit. Biasanya beliau visit pagi hari, kok hari itu malam jam 11 an!!
Dokter mennemui kami, dan membawa kabar buruk.
"Bu, banyak doa ya. Mudah mudahan adik tertolong, karena setelah saya lihat kondisi aslinya, kondisi adik tidak baik. Panasnya tidak mau turun. Nafasnya sesak sekali. Kalaupun adik bisa melewati masa ini, adik tidak bisa bernafas tanpa ventilator"
Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, disambar petir, ketiban pohon beringin pula!
Tuhan, saatnya KAU menyatakan mujizatMu.
Kupercaya mujizat ada.
Keluarga dan teman-teman membantu dalam doa.
Aku dan suami tidak henti-hentinya berdoa dan memaksa Tuhan menyembuhkan anak ini secara ajaib.
Suster mengijinkanku masuk melihat Leon.
Leon masih bernafas, dia mulai tenang.
Tangan mungilnya menggenggam jariku.
Nafasnya masih sesak.
Dia berusaha miring, tangannya diangkat minta dipeluk.
Kupeluk Leon, dan dia menangis.
Air matanya keluar dari matanya yang kecil.
"Leon, Tuhan Yesus sembuhkan Leon, Leon berjuang ya dikit lagi Leon sembuh, Leon semangat ya! Leon kan anak kuat, Leon sudah 2 hari ga tidur, Leon tidur ya, besok Leon bangun sudah sembuh. Leon habis dikasi obat biar sembuh. Mama papa akan berjuang sampe titik darah penghabisan untuk kesembuhan Leon. Kamu ga sendirian nak berjuangnya... Oke.."
Kalimat itu teringat jelas sampai sekarang.
Leon pun menjawab "ma.. ma.. ma.."
Aku pergi tak kuasa melihatnya dalam sakit yang seperti itu.
Aku menangis diluar kamar.
Aku berdoa dan berdoa menanti setiap keajaiban.
4 April 2019, Jam 3 subuh, suster mulai mondar mandir keluar masuk kamar, terlihat mereka sedang panik.
Suami disuruh tanda tangan untuk mengeluarkan alat NICU.
Akhirnya ada suster yang membuka suara "Bu, banyak doa. Kondisi adik tidak baik, adik kejang, demamnya tinggi dan ga mau turun.."
Lutut ini rasanya lemas.
Tuhan, halloooo! DIMANA ENGKAU SAAT INI?
GA LIAT TA KALO LEON SEKARAT??
Perasaan itu bercampur aduk.
Haruskah kupercaya Tuhan, atau kuhujat DIA.
Dan aku memilih untuk menyerahkan pada Tuhan.
Aku memohon ampunan, tidak lagi meminta Leon sembuh.
Aku cuma memohon Tuhan ambil alih semuanya.
Dokter anastesi datang.
Saat itu juga aku yakin kondisi Leon makin buruk dan harapan hidupnya menipis.
Tanpa peduli rasa malu, aku berlutut dan mengangkat tangganku. Mulutku mulai bernyanyi lagu penyembahan dan berdoa.
Diatasku persis CCTV. Mungkin yang jaga CCTV saat itu mbatin, lapo yo wong iki jengkang jengking depane kamar.
"Tuhan, saat dokter mulai angkat tangan, saat harapan hidupnya cuma 0.0001%, aku mau mengundangMU untuk mengambil alih segalanya. Sekecil apapun harapannya, asala didalam tanganMU, kuyakin mujizat nyata. Tuhan, tolong Leon, kasi kami kesempatan untuk menjadi orang tua yang lebih baik dari sekarang."
Air mata tak dapat dibendung.
Kujamah pintu kamar dan menyuruh Tuhan ambil alih semuanya.
Selamatkan Leon. Selamatkan bayiku.
Jam setengah 6 pagi, suster menyuruh kami masuk.
Kulihat dokter anastesi berjuang mengembalikan nafasnya leon yang sudah ga ada.
Saat itu juga, diruangan itu, aku merasa hadirat Tuhan kental sekali. Benar-benar seperti lagi KKR.
Kulihat kaki mungilnya Leon mulai kaku dan membiru.
Kupanggil Leon.. Kubebaskan dia memilih "Leon Leon, Leon mau milih tinggal sama mama papa atau Tuhan nak. Kalau Leon mau ikut mama papa, Leon balik nak.. Mama Papa Bobo Emak Iik semuanya menunggu Leon. Tapi kalo Leon mau ikut Tuhan Yesus, Leon jadi anak yang baik ya.
Mama ikhlas nak. Terserah Leon nak.."
Dokter dan suster menangis mendengar ucapanku,
Aku ya nangis. Masak ketawa ketawa..
"jam 5 subuh.." kata dokter anastesi.
Ya jam 5 subuh Leon sudah ga ada, hanya saja secara medis masih bisa diusahakan hidup 30 menit dengan alat apa itu ga tau lah namanya.. hehe. Kan siapa tau mati suri..
Saat dokter mengatakan jam 5, reflek kuucapkan kalimat ini
"Tuhan Yesus baik, Engkau menyembuhkan Leon secara total. Tuhan kini Leon sudah sehat. Dia ga sesak nafas lagi, dia bisa bebas tanpa ventilator. Leon kamu sehat dan sembuh sekarang nak. Terimakasih Leon sudah mengajari mama papa banyak hal meski cuma 8 bulan saja.."
Pelan-pelan kutinggalkan kamar itu.
Kulihat dokter dan suster menundukkan kepala menangis.
Secepat itu kepergianmu.
Kuikhlaskan dia 100%.
Kusambut kedatangannya dari surga dengan sukacita, kuantarkan Leon kembali ke surga juga dengan sukacita. Karna kuyakin saat itu Tuhan menjemputnya sendiri. Ruang itu masih full hadirat Tuhan. Merinding tapi ga serem. Merinding yang damai dan giimana gitu loh..
CHAPTER 6
CeritaNYA belum selesai!
Kepergian Leon membuat heboh banyak orang.
Dari keluarga, grup LHC, teman-teman, sampai orang-orang yang tak kami kenal.
Mereka juga melontarkan pertanyaan yang sama.
Kok bisa?? Kan Leon sehat.
Kan jantungnya membaik.
Orang-orang tidak kenal pun ikut menangisi kepergian Leon.
Setelah Leon pergi, semakin kusadari bahwa hidup ini benar sekali seperti uap yang bisa menghilang dengan cepat.
Hal ini membuktikan Kuasa Tuhan nyata, untuk memuliakan namaNYA tidak harus dengan kesembuhan, ternyata dengan cara kematian namaNYA semakin dimuliakan.
Tuhan sanggup mengambil apa yang ada di dalam hidup kita.
Uang? Jabatan? Nyawa?
Ingat, semua itu hanya titipan.
Selagi diberi kesempatan hidup, meskipun berat dan banyak cobaan, teruslah beriman pada Tuhan.
Karna iman didalam Tuhan tidak pernah mengecewakan.
Mungkin bagi manusia kematian adalah hal yang menegcewakan sekali. Tapi Tuhan tau, DIA tidak akan mencobai manusia melebihi batas kemampuannya.
Andaikata Leon selamat, mungkin sampai saat ini dia juga terbaring di NICU dengan ventilator agar bisa bernafas.
Tuhan sayang Leon, Tuhan sayang kami, Tuhan sayang kamu juga loh.
Leon tidak mau dipasang ventilator, Leon maunya hidup bebas di surga yang kekal. Tanpa penderitaan.
(Ayub 1:21) - "katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Seseorang pernah berkata, "Anak itu titipan Tuhan apapun kondisinya. Sewaktu hamil aku ke spog terbaik, tidak sembarangan minum obat, suami ga ngerokok dan ga neko2, vitamin dari dokter juga diminum habis, tapi anakku lahir jantung bocor. Semakin kucari tahu penyebabnya, semakin aku merasa bersalah. Tidak ada orang tua yang mengharapkan punya anak sakit, begitu juga dengan mereka. Kalau bisa milih, mereka juga ingin terlahir sehat tanpa kelainan bawaan. Saat itu juga kuputuskan untuk berhenti mencari penyebabnya, dan aku mulai bersyukur atas kondisinya yang special"
Ya aku setuju!
Semasa hamil gak kurang kurang doa minta anak terlahir sehat, tapi ketika Tuhan berkehendak lain, ternyata DIA mengajarkan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan kami berdua.
Terimakasih Yesus atas Leon, walau waktuku dan dia cuma sebentar. Tapi itu sudah cukup untuk menyadarkan kami bahwa keberadaanMu nyata, mujizatMu dinyatakan dalam hal yang berbeda.
Blog ini kubuat agar aku yang pelupa ini tidak melupakan Leon.
Leon selalu hidup di hati kami dengan kenangan yang manis.
Jadi bukannya kami ga bs move on dan terjebak di masa duka terus, tapi kami ingin menuliskan kisah luar biasa yang pernah Tuhan tuliskan dalam hidup kami. Ternyata kematian tidak seburuk itu.
Aku pernah baca di sebuah buku, psikolog itu mengambil kertas putih dan spidol. Lalu dia menunjukkan kepada pasiennya "apa yg kau lihat?"
Semua pasiennya menjawab "titik hitam".
Ya itulah manusia, selalu terfokus pada titik hitam dalam hidupnya. Mereka lupa bawa halaman putih kertas diibaratkan hal baik dalam hidup itu jauh lebih banyak dibanding setitik noda.
Jadi dari buku itu juga, aku terinspirasi untuk mencari hal baik apa sih dibalik kepergian Leon.. Oh ternyata buanyak banget ya pelajaran yang Tuhan kasi, mulai dari kelahirannya, proses ketahuan jantung bocornya, sampai Tuhan menjemput Leon kembali ke surga.
Mungkin beda halnya jika aku panggil pengacara, trus menuntut RS yang memulangkan Leon padahal jelas2 anak itu masih demam. Mungkin jika aku memilih langkah itu, hidupku kehilangan damai sejahtera. Mau menggandeng Hotman Paris pun anak itu ga akan hidup lagi. Percuma..
Aku lebih percaya semua yang terjadi dalam kehidupan kita tu diijinkan Tuhan.
Semua sudah digariskan.
Sehat mendadak meninggal juga banyak.
Orang bunuh diri tapi ga jadi meninggal ternyata juga banyak.
Jadi bukannya kami ga bs move on dan terjebak di masa duka terus, tapi kami ingin menuliskan kisah luar biasa yang pernah Tuhan tuliskan dalam hidup kami. Ternyata kematian tidak seburuk itu.
Aku pernah baca di sebuah buku, psikolog itu mengambil kertas putih dan spidol. Lalu dia menunjukkan kepada pasiennya "apa yg kau lihat?"
Semua pasiennya menjawab "titik hitam".
Ya itulah manusia, selalu terfokus pada titik hitam dalam hidupnya. Mereka lupa bawa halaman putih kertas diibaratkan hal baik dalam hidup itu jauh lebih banyak dibanding setitik noda.
Jadi dari buku itu juga, aku terinspirasi untuk mencari hal baik apa sih dibalik kepergian Leon.. Oh ternyata buanyak banget ya pelajaran yang Tuhan kasi, mulai dari kelahirannya, proses ketahuan jantung bocornya, sampai Tuhan menjemput Leon kembali ke surga.
Mungkin beda halnya jika aku panggil pengacara, trus menuntut RS yang memulangkan Leon padahal jelas2 anak itu masih demam. Mungkin jika aku memilih langkah itu, hidupku kehilangan damai sejahtera. Mau menggandeng Hotman Paris pun anak itu ga akan hidup lagi. Percuma..
Aku lebih percaya semua yang terjadi dalam kehidupan kita tu diijinkan Tuhan.
Semua sudah digariskan.
Sehat mendadak meninggal juga banyak.
Orang bunuh diri tapi ga jadi meninggal ternyata juga banyak.
Jika Tuhan mengijinkan kami sekali lagi menjadi orang tua, akan kutunjukkan pada anakku nanti siapa itu Koko Leon.. Bayi mungil yang membuat hidup kami berubah dan berbalik dari jalan yang jahat menuju pertobatan.
(2 Tawarikh 7:14) dan umat-Ku yang atasnya Nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku serta berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku, Aku akan mendengar dari surga dan akan mengampuni dosa mereka serta memulihkan negeri mereka.
Ayat itulah yang selalu menguatkanku.
Amin
***
Terimakasih sudah membaca sedikit kisah kehidupan kami yang telah Tuhan tuliskan, semoga terberkati. https://www.ibupedia.com/artikel/kelahiran/125-nama-bayi-laki-laki-huruf-l-dengan-arti-yang-mengagumkan
![]() |
| 3 April 2019 di Ruang Bayi |
![]() |
| Dia adalah malaikat yang Tuhan titipkan agar kami belajar menjadi orang tua |
![]() |
| Tidurlah dalam damai di sini, Hiduplah dengan bebas dan sukacita di Surga |















Leon anakku sygg...
BalasHapusSy tidak pernah bertatapan langsng dgn org tuamu, sy tidak pernah menggendongmu langsng.. Perkenalanku dgn papa mamamu juga tidak pernah kami rencanakan...
Tapi kpergianmu bener2 mmbuat sy kehilangan sosok leon leon leon...
Doakan sodara2mu yg mash berjuang untuk kesembuhan dsurga nak...
Doakan agar mreka2 bisa dberikan kesmpatan untuk berada dsini bersama mamapapanya nak yaa...
Leon bahgialah disurga nak yaa..
Mama Gian syg Leon..
Tetap semangat ya Gian. Tuhan juga pasti akan berikan kekuatan untuk Gian, teruslah berdetak janung kecilku, jantung kecil jagoannya mama papa Gian... Big hug
HapusTidak ada hal yg terjadi dlm hidup ini tanpa se ijin Tuhan. Tetap percaya , tetap kuat dan semangat ya... Tuhan Yesus mengasihi kalian berdua.
BalasHapusBetul sekali. Tuhan berperan utama atas kehidupan kita. GBU
HapusI love you leon.. anak yg membanggakan hati orang tua.. <3
BalasHapusAaauuuwww... Ontyy... padahal kita sudah sempet bahas mau ngemall bareng ya.
HapusHehehe... Tapi sekarang Leon sudah bebas mau kemana aja bisa ga perlu nunggu weekdays lah, sepi lah.. wkwkwk
Leon....saya Bu nurul teman LHC mama mu....leon saya sayang leon ...
BalasHapusBu Nurul mamanya Dillah? :D
HapusHai Dinna.. Sangat terberkati sekali dengan kisah hidup yang kamu bagi melalui tulisan-tulisanmu. Thank you ya sudah menceritakan kisahmu dan Leon.. Thank you sudah menginspirasi kami semua bagaimana seharusnya mempercayai Tuhan. Semangatttt Sis! Tuhan Yesus memberkati kamu dan terus memakaimu jadi berkat bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang putus pengharapan.
BalasHapus