Langsung ke konten utama

Hadiah dari Tuhan

4 bulan setelah kepergian Leon, tidak kusangka aku hamil..! Iya hamil!! Padahal kala itu aku dan suami baru memulai program hamil dengan rutin minum asam folat setiap pagi. Dokter menyarankan minimal 3 bulan sebelum kehamilan aku dan suami harus rutin minum asam folat untuk mempersiapkan kehamilan yang lebih sehat. Tapi 3 bulan apanya! Baru juga kurang dari 10 hari kami merutinkan minum asam folat, lha kok jadwal yang seharusnya aku mens ini mendadak telat sampai 1 minggu. Antara senang dan cemas, itulah yang kurasakan ketika kulihat testpack menunjukkan 2 garis merah.

Senang, karena Tuhan mengizinkan kami sekali lagi untuk menjadi calon orang tua.
Cemas, karena aku merasa bukan waktu yang tepat untuk hamil soalnya baru 10 harian rutin minum asam folat.
Pikiranku kacau membayangkan bagaimana nasib calon dedeknya Leon yang mendadak ada di rahimku, jujur, aku takut kelainan jantung itu terulang kembali karena bagaimanapun juga resiko untuk kelainan jantung itu pasti ada mengingat ada riwayat pada almarhum anak pertama kami.
Ditengah ketakutanku, si Jeffri suamiku memberikan semangat "Jika Tuhan sudah mengizinkan maka akan terjadi sesuai kehendakNya. Aku yakin anak ini hadiah dari Tuhan untuk kita, sudah seharusnya kita senang dengan hadiah yang Tuhan kasih".



Chapter 1 : Terimakasih Nak!
Berdasarkan info dari teman-teman komunitas Little Heart Community, aku jadi mengetahui keberadaan dokter fetomaternal. Istilah fetomaternal sendiri sangat asing ditelingaku, karena yang kutahu dokter kandungan ya SPOG.
Pemeriksaan kehamilan oleh dokter kandungan subspesialis fetomaternal sangat disarankan bagi ibu hamil yang menjalani kehamilan berisiko tinggi atau ditemukan adanya komplikasi saat kehamilan. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi ibu dan janin tetap sehat hingga persalinan nanti.

Bersyukur aku bertemu dengan beliau, dokter Manggala Pasca Wardhana. Meski usia masih muda tapi pengalaman beliau sangat banyak bahkan beliau juga menjadi salah satu dokter kandungan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, konon katanya ga sembarangan dokter bisa ada disana, hanya mereka dokter yang 'top' yang bisa ada praktek di rumah sakit tempat Leon lahir.

Pertama kali aku memeriksakan kandungan, jantung ini rasanya mau copot. Dag dig dug dag dig dug, tegang poooll!! Kuceritakan pengalamanku memiliki anak pertama yang mengidap penyakit jantung bawaan tipe VSD (Ventricular Septal Defect), plus riwayat preeklamsia yang mendadak muncul 2 minggu sebelum kelahiran Leon.
Diluar dugaan, ternyata beliau juga memiliki anak kelainan jantung. Seketika aku berpikir 'Lucu atau aneh ya Tuhan itu, ini dokter kandungan loh! Kok bisa anaknya juga kena kelainan jantung'. Tapi dari cerita beliau, aku jadi paham kenapa kadang Tuhan mengizinkan 'hal buruk' terjadi, ya supaya bisa saling menguatkan orang lain yang punya masalah serupa. Aku merasa punya kekuatan lebih untuk menjalani kehamilan ini, karena dokter kandungan kali ini juga pernah merasakan gimana rasanya punya anak PJB (Penyakit Jantung Bawaan), bahkan beliau tidak hanya berbagi teori tapi juga membagikan pengalaman pribadinya yang benar-benar membuat aku dan suami 'nyaman'.

"Jangan stres! Diusahakan selalu gembira ya dan selalu berdoa", begitulah pesan beliau setiap kami kontrol kandungan, karena menurut dokter Manggala stres bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin.
Yang paling aku suka dari tempat praktek beliau adalah teknologi 4D USG, plus setelah selesai kontrol kita akan menerima sms berupa link download foto dan video hasil USG tadi. Coba tebak biayanya berapa? Wkwkwkw..
CUMA 300.000!!! IYA!! 300.000 RUPIAH sudah termasuk jasa konsultasi dengan dokter, tapi belum termasuk biaya vitamin / obat ya karena setiap ibu hamil obat dan vitaminnya menyesuaikan dengan kondisi kehamilannya.
Yang paling membuatku semakin sreg melanjutkan kontrol kehamilan sampai lahiran di dokter Manggala adalah beliau bisa menangani kelahiran sesar pakai BPJS, kan ga semua dokter bisa BPJSan hehe. BPJS sangat menolong sekali untukku dan suami yang memang bukan dari background keluarga berlebih, Leon dulu lahiran juga pakai BPJS.

Hello dedenya Leon!


Terimakasih nak, sudah berjuang untuk terus tumbuh dengan baik di rahim mama.
Terimakasih nak, sudah hadir di kehidupan mama dan papa meski kami belum berjumpa secara nyata.
Terimakasih sekali lagi, karena hari-hari kami yang kosong setelah kepergian kakakmu mulai terasa hangat dan berwarna lagi dengan kehadiranmu.

Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah 24 minggu usia kehamilanku berjalan. Saatnya screening! Aku pernah baca artikel intinya dengan teknologi yang ada saat ini, PJB (Penyakit Jantung Bawaan) sudah bisa dideteksi sejak janin masih berada di dalam kandungan, yaitu melalui fetal echocardiography atau bahasa simpelnya screening kandungan. Sayangnya dokter yang bisa melakukan fetal echocardiography atau screening kandungan ini masih terbatas jumlahnya. 

Buat yang ada di Surabaya. Screening kandungan seperti ini berkisar 700ribu-jutaan (tergantung siapa dokternya dan dimana screeningnya), pada waktu itu tahun 2019 biaya screening kandungan di dokter Manggala 700.000 Rupiah.

Kapan screening kandungan bisa dilakukan? (Nah sebenarnya agak-agak lupa tepatnya kapan, yg pasti ada 2 jenis, screening kromosom dilakukan saat trimester 1 untuk melihat ada autis / kelainan kromosom tidak, kalau ga salah bisa dilakukan saat usia kandungan 12-14 minggu. Dan screening anatomi lengkap di usia sekitar 24 minggu)

Aku pribadi ikut yang screening anatomi lengkap usia 24 minggu, awalnya kukira cuma cek jantung janin doank, ternyata lengkap banget pemeriksaannya. Mendetail dari ujung kepala smpe ujung kaki termasuk juga aliran darah dll.
Screeningnya lamaaaaaa sekitar 20-30menitan. Setelah selesai kita mendapatkan buku hasil screening (jadi teringat rapor pas sekolah hehe), isi bukunya adalah foto hasil screening yang dicetak, ada beberapa halaman karena fotonya memang banyak. Dapet CD juga, dan 1 lembar rangkuman hasil pemeriksaan.


Bagi orang awam seperti aku, kagum sih teknologi jaman sekarang bisa secanggih itu.
Puji Tuhan hasil screening dedeknya Leon sejauh ini sehat semua.

Keakuratan hasil screening mungkin cuma 90%an, karna kembali lagi anak titipan Tuhan dan kuasa Tuhan tidak bisa 100% dideteksi dengan teknologi secanggih apapun.
Namun sebagai calon org tua, kami juga mengupayakan yang terbaik untuk kehamilan kali ini. Dokter yang menyediakan fasilitas teknologi terbaik, vitamin terbaik, dan yang pasti diatas itu semua adalah doa yang terbaik untuk sang jabang bayi.



Chapter 2 : Welcome My Precious One!
Hari demi hari berlalu, tak terasa usia kandunganku sudah memasuki trimester akhir.
Pada kehamilan kedua ini, aku benar-benar berusaha untuk menjaga supaya preeklamsia tidak kambuh. Preeklamsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.
Dulu waktu hamil Leon, riwayat tensiku selalu rendah alias anemia, tapi siapa sangka 2 minggu menjelang kelahirannya mendadak tensiku tinggi bahkan pernah mencapai 180-200an dan dinyatakan positif preeklamsia. Kali ini dokter Manggala meresepkan aspilet sebagai upaya pencegahan terjadinya preeklamsia berulang. Meski menurut beliau dengan mengkonsumsi aspilet tidak selalu berhasil mencegah preeklamsia, tapi lebih baik dicoba saja toh ya dosisnya sehari cuma 1x.
Aspilet ini aku konsumsi dari awal kehamilan sampai usia kandungan 36 minggu. Berlebihan meminum aspilet juga beresiko pendarahan pada saat melahirkan karena aspilet sendiri kan berfungsi sebagai pengencer darah, jadi lebih baik mengkonsumsi aspilet sampai usia kandungan 36 mingguan atau konsultasikan dengan dokter kandungan dulu.

Puji Tuhan apa yang kutakutkan tidak terjadi, preeklamsiaku tidak kambuh, tensi selalu normal dari trimester pertama sampai terakhir. 
Tapi ... Dunia sedang 'berduka', masih ingat dengan jelas kala itu awal Maret 2020 pandemi Covid-19 mulai menyerang Indonesia, aku sudah sangat parno dengan kondisi diluar sana karena jadwal lahiran juga tinggal menghitung hari. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa pandemi mengubah segalanya, termasuk mengubah aturan rumah sakit yang melarang pasien dikunjungi keluarga. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kita melahirkan tapi tidak ada sanak saudara dan keluarga yang mendampingi, sepiii.. sedih.. tapi jika itu memang baik untuk aku dan bayiku maka aku harus ikhlas menerima perubahan ini.
Benar-benar sangat berbeda dengan hari kelahiran Leon yang didampingi suami, mama papaku, adik-adikku, mertua dan beberapa teman yang ikut menyambut kehadiran buah hati pertama kami. Kali ini kehadiran dedenya Leon sangat privat, cuma didampingi papanya saja hahahaa. Kembali lagi, Tuhan tau yang terbaik dan yaa inilah yang terbaik bagiku dan keluargaku agar tidak terpapar virus mematikan itu.

Oiya aku juga mau membagikan sedikit pengalamanku yang sesar dengan BPJS. Kelihatannya belum banyak orang tahu bahwa BPJS juga menanggung kasus kelahiran, tapi maaf untuk yang kelahiran normal pakai BPJS aku tidak banyak mengetahui infonya karena selama 2x aku memiliki anak semuanya sesar hehe.

Pertama harus kita ketahui bahwa BPJS hanya menanggung kelahiran sesar dengan kasus tertentu, dalam artian jika kehamilan kita sehat begitu juga dengan calon jabang bayi dinyatakan dokter sehat ya gak bisa ujug-ujug kita minta sesar dengan alaesan takut beranak normal wkwkwkw. Pada kehamilan anak pertama kami, Leon, yang sekarang sudah berada di Surga, aku positif preeklamsia dan dokter mengharuskan Leon lahir sesar mengingat tensiku yang terus tinggi pada waktu itu. Pada kehamilan anak kedua, Puji Tuhan sehat semua ibu dan bayi, tidak ada preeklamsia, juga tidak dideteksi adanya kelainan apapun, tapi kok bisa sesar BPJS?! Hehehe.. Itu karena jarak kelahiran anak pertama dan keduaku cuma 2 tahunan, bisa dikatakan masih beresiko jika anak kedua ini lahirannya normal, jadi ya udah deh sesar lagi hehe.

Waktu pertama kali kontrol kandungan ke dokter Manggala, tanpa sungkan-sungkan aku bertanya "dok, ini nanti lahirannya bisa sesar pake BPJS?" wkwkwkwkw.. ya maklum kaum kongmelarat, bukan konglomerat hahaha.
Beliau menjawab pertanyaanku "loh kenapa memangnya kok mau sesar?", dari situlah aku mulai menceritakan riwayat preeklamsia dan anak PJB. Menurutku jika memang dari awal kita ingin lahirannya menggunakan BPJS, ada baiknya secepat mungkin kita juga berburu info tentang dokter dan rumah sakit yang bisa BPJS. Ingat, ga semua dokter dan rumah sakit bisa BPJS.

Contohnya dokter Manggala, beliau adalah dokter kandungan fetomaternal di beberapa rumah sakit di Surabaya, tapi dari sekian banyak tempat beliau praktek hanya RS Siloam dan RSUD Dr Soetomo yang bisa BPJS.
Jika sudah ada 2 pilihan seperti itu langkah selanjutnya adalah kita mempertimbangkan jarak lokasi rumah dengan rumah sakit, begitu juga dengan lingkungan rumah sakit tersebut.
Ditengah pandemi seperti ini, aku dan suamiku sengaja tidak memilih RSUD Dr. Soetomo karena kami rasa disana sangat rentan untuk tertular covid, ya meskipun RS Siloam sendiri statusnya saat itu adalah RS rujukan pemerintah untuk kasus covid juga tapi setidaknya kami merasa RS Siloam masih jauh lebih mendingan (Pada saat itu belum banyak RS yang menjadi tempat rujukan pasien covid, mendengar kata covid saja sudah bikin merinding ya kan, apalagi kalau posisi kita harus melahirkan di RS tempat rujukan covid, ya mau ga mau harus mau, namanya juga pake BPJS.. Kalau kaum konglomerat mah santuy tinggal pilih rumah sakit bersalin terbaik, leha-leha sambil menunggu hari H kelahiran, karena aku bukan dari golongan konglomerat ya udah harus tabah dan ikhlas bolak balik mengurus syarat lahiran BPJS ditengah pandemi yang baru melanda Indonesia hahaha.

Apakah bisa kontrol kandungan pakai BPJS?
BISA BANGET! Tapi harus kontrol di RS, tidak bisa kontrol di tempat praktek rumahan. Selama hamil anak ke dua, aku selalu kontrol dan screening kandungan di tempat praktek dokter Manggala yang berada di jalan Raya Dharmahusada Indah A-28 Surabaya. Aku sebenarnya males minta surat rujukan di faskes 1 dan ngantri di RS untuk kontrol menggunakan BPJS, ya meskipun surat rujukan dari faskes 1 itu bisa digunakan sampai 3 bulan kedepan tapi aku lebih memilih membayar 300.000 saja, anti ribet-ribet club hehe.

1-2 minggu sebelum jadwal sesar tiba, dokter Manggala memberikan kami surat yang harus dibawa ke faskes 1, nah nantinya dari faskes 1 itu mereka akan mengeluarkan surat rujukan penghantar sesar yang harus diberikan ke RS Siloam. Faskes 1 kami adalah klinik umum di dekat rumah, di klinik itu aku ditensi sambil ditanyai alasan kenapa lahirannya kok sesar, ada kendala apa emangnya? Surat dari dokter Manggala ini yang menjadi dasar kuat supaya pihak klinik tersebut mau mengeluarkan surat rujukan.

Setelah mendapat surat rujukan dari faskes 1, kami mulai mempersiapkan dokumen apa saja yang menjadi syarat BPJS di RS Siloam (beda RS, bisa saja berbeda syarat ya)
Untuk RS Siloam sendiri BPJSnya sangat terstruktur rapi, saking rapinya mungkin terkesan 'ribet'. Kami harus mengirimkan SMS dulu dengan format tertentu supaya bisa mendapat jadwal kapan harus ke RS untuk melakukan kontrol kandungan dengan dokter Manggala, kontrol kandungan di RS ini sifatnya formalitas saja karena kan kita mau melakukan tindakan sesar disana jadi paling tidak pihak RS menyimpan riwayat kandungan kita dengan 1x kontrol di RS pakai BPJS.
RS Siloam tidak menerima pasien BPJS yang dadakan mau kontrol kandungan, benar-benar terstruktur dan ketat menurutku. Minimal H-1 melakukan registrasi via SMS supaya kedatangan kita tidak sia-sia.

Berikut adalah kelengkapan yang harus dipersiapkan

Setelah semua beres, maka langkah selanjutnya adalah menentukan jadwal operasi. Sebelum melakukan operasi masih ada serangkaian test yang harus dilakukan, test ini meliputi test darah, tensi dll, dan semuanya ditanggung BPJS.
Jika hasil test benar-benar bagus dan tidak ditemukan gejala gangguan kehamilan yang serius maka proses operasi benar-benar tinggal menghitung hari. Tapi jika ada kendala serius maka mau tidak mau harus dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo seperti halnya kelahiran Leon yang batal di RS Siloam gegara hasil testnya positif preeklamsia..

Apakah biaya ini benar-benar gratis? Tentu tidak! Ada beberapa hal yang tidak tertanggung BPJS, misalnya transfusi darah jika diperlukan, dan biaya APD (Alat Pelindung Diri). Total aku masih harus merogoh kocek sekitar 5 jutaan untuk biaya persalinan sesar BPJS kelas 1. Andaikata ga ada teror covid-19 ya cuma nombok 1 jutaan, karena waktu itu biaya termahal adalah dari APD yang tidak ditanggung pemerintah. Jika kondisi sekarang kelihatannya wajib ikut swab antigen yang rumornya tidak bisa BPJS, entah benar atau tidak, soalnya Maret 2021 belum ada swab antigen PCR apalah.

27 Maret 2021, atas seizin Tuhan proses persalinan berjalan dengan lancar tanpa kendala, selamat datang di dunia putri kecilku, Jocelyn Feodora Wiyanto.
Konon katanya nama adalah doa, kali ini kami memilih nama diatas juga menyiratkan doa agar putri kecil kami bertumbuh menjadi anak yang selalu riang gembira di setiap keadaan, itulah arti nama Jocelyn, dan Feodora sendiri memiliki arti hadiah / anugerah dari Tuhan, kami merasa ditengah badai kehidupan yang tengah melanda keluarga kecil kami Tuhan masih mau sekali lagi menganugerahkan hadiah terindah yaitu buah hati bagi aku dan suamiku. Wiyanto adalah nama keluarga bapaknya hahahah.


27 Maret 2020 // SC // 3kg // 48cm




Chapter 3 : Perjalanan Baru Dimulai
Teruntuk anak-anakku yang berada di Surga dan di Bumi
Leon, malaikat kecil kami yang sudah sembuh dan bahagia di Surga sana, terimakasih nak, darimu mama dan papa belajar percaya bahwa rencana Tuhan adalah rencana yang baik sekalipun pada kenyataannya terkadang susah dipahami kebaikan Tuhan yang terselubung itu.
Melalui kondisimu yang istimewa, sedikit banyak mama dan papa dapat mengedukasi teman-teman dan keluarga tentang penyakit jantung bawaan (PJB).
Melalui kepergianmu rupanya banyak mengubah kehidupan keluarga lain yang merasa sangat terberkati dengan kisah hidupmu (klik disini jika ingin membacanya).
Sampai kapanpun kau selalu tumbuh di hati kami, dan mama papa percaya engkaupun sedang menjagai kami dan adikmu dari atas sana.

Jocelyn, tuan puteri kami yang paling cantik, terimakasih nak, terimakasih karena terus tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat.
Melalui keberadaanmu, mama dan papa banyak bersyukur atas tumbuh kembangmu yang tergolong cepat dari usia rata-rata.
Melalui kebersamaan denganmu, mama dan papa juga sangat bahagia menghargai setiap waktu kehidupan yang Tuhan ijinkan terjadi.
Teruslah bertumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, penyayang dan luar biasa.
Sampai pada waktuNya tiba, kami sekeluarga akan berkumpul di Surga bersama dengan koko Leon.

Terimakasih anak-anakku karena telah banyak mengajarkan kepada kami apa arti perjuangan.
Dari kalianlah mama dan papa belajar menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Terimakasih Tuhan atas setiap cerita kehidupan yang Engkau tulis atasku dan keluarga kecilku, suka duka yang kami alami rupanya membawa kekuatan bagiku untuk terus melangkah menghadapi berbagai lika liku kehidupan, karena pada akhirnya aku tahu bahwa segala sesuatu terjadi pasti ada tujuan dan maksud dari Tuhan yang baik bagi umatNya.

Perjalanan belum berakhir,
Hari demi hari yang kami lalui adalah anugerah dari Tuhan, bisa menikmati kesehatan juga kebersamaan bersama suami dan anak benar-benar salah satu kasih Tuhan yang paling indah yang kurasa.

Perjalanan baru dimulai..
Mulai untuk bersyukur,
Mulai untuk bersyukur,
Dan mulai untuk bersyukur.
Sebuah kata sederhana namun nyatanya tidak semua orang mampu memaknai kata-kata 'syukur', apalagi jika badai kehidupan terus-terusan menerjang silih berganti.

Akupun pernah berada di titik terendah itu, hanya dengan bersyukur dan menghargai setiap detik kehidupan, perlahan-lahan aku mulai bangkit dari keterpurukan dan tak kusadari kakiku mulai kuat menjalani kehidupan yang memang berat ini.

Teruslah bersyukur dan percaya pada waktu Tuhan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Little Heaven

Kadang aku berpikir, apakah Tuhan itu ada? Benarkah DIA baik? Tapi kenapa jika DIA baik, mujizat itu tidak terjadi kepada Leon, anak pertama kami yang masih berusia 8 bulan. Jika DIA ada, kenapa anak lain mendapat mujizat kesembuhan itu, sementara Leon tidak? Jika memang Tuhan baik, kenapa DIA begitu cepat mengambil Leon dari hidup kami. Katanya Tuhan mendengar doa umatNYA yang sungguh-sungguh mencari DIA, tapi kenapa doaku tidak didengar? Apakah aku terlalu berdosa sehingga DIA tidak berkenan mendengar dan mengabulkannya. Pertanyaan diatas sering sekali muncul dalam benakku pada awal kepergian Leon. Kenapa kenapa kenapa dan kenapa!! Ya, ternyata Tuhan memang tidak bisa diselami oleh keterbatasan manusia. Pada akhirnya aku paham betul, bahwa memang Tuhanlah penulis kehidupan kita. DIA yang menentukan segala cerita kehidupan yang kita alami. CHAPTER 1 SURPRISE!!! Welcome baby Leon 8 Juli 2018 // SC // 3,29kg // 50cm // RSUD Dr. Soetomo Surabaya Kelahiran Leon adalah kel...

And i have lived in the goodness of God

Sudah sangat lama aku tidak menulis di blog ini lagi. Waktuku banyak tersita karena pekerjaanku termasuk hal mengurus anak. Memang ya jika sudah menyandang status sebagai ibu, bisa makan mie kuah yang masih hangat atau bisa mandi keramas + bolot bolot, itu adalah prestasi me time yang luar biasa. Jadi harap maklum jika jarang menulis di blog ini lagi. Ah tapi itu cuma alasan aja sih wkwkwkwk.. Karena sejujurnya aku pernah berada di titik minder sampai terlalu malu untuk menulis lagi. Yaaa semacam ada perasaan : lha apa yang harus kutulis?! Tidak ada hal spektakuler dalam hidupku untuk diceritakan lagi. Bahkan untuk apa Tuhan menghadirkan aku di dunia ini pun sering kupertanyakan.. Untuk apa Tuhan KAU ciptakan aku? Iya.. untuk apa? Gagal paham aku mengenai rencanaMu. Ketika aku melihat keadaan sekitarku, mereka telah banyak berubah. Teman, saudara, kenalan, satu per satu yang dulunya hidup susaaahhhhhhh miskinnnn, pelan2 Tuhan angkat kehidupan mereka. Kesuksesan demi kesuksesan telah me...