Langsung ke konten utama

Dancing In The Rain

Seandainya dari dulu aku tahu bakal seperti ini kehidupanku setelah menikahinya, mungkin pada waktu itu aku tidak akan mau berpacaran dengannya..


Keuangan yang tidak stabil, memiliki anak pertama yang meninggal karna PJB (Penyakit Jantung Bawaan) dan punya banyak utang karena itu, gak punya mobil, rumah masih numpang di rumah orang tuanya, hampir tidak pernah liburan khususnya ke luar kota kecuali kalau ada yang mengajak, intinya kehidupanku yang sekarang berbanding terbalik dari jaman sebelum menikah..


Mungkin karena itulah mengapa lebih baik untuk tidak kepo dengan apa yang terjadi di masa depan, karena jika aku tahu dari dulu akan seperti ini, aku tidak akan berani melangkah lebih jauh, dan yang paling penting aku tidak akan menjadi aku yang sekarang..


Aku dan dia sama sama tak akan pernah tau akan ada apa di depan sana, meski sekarang kehidupanku tampak 'biasa saja', atau bahkan beberapa orang melihat 'pernikahan yang tidak bahagia karna kurang materi', tapi aku berterimakasih kepada keadaan yang mengajarkan kami untuk kuat menghadapi badai kehidupan yang ini pun nantinya akan berlalu dan menjadi kisah di hari esok..


Terimakasih kepada setiap masalah yang Tuhan ijinkan terjadi karena kaki kami semakin kuat melangkah menghadapi masalah, bukan malah menghindarinya seperti yang dilakukan banyak pasangan akhir-akhir ini.


Terimakasih kepada setiap proses yang menyakitkan, penuh perjuangan, doa dan air mata, yang mana kami berdua tahu bahwa masa depan sungguh ada dan harapan tidak akan hilang.


Terimakasih kepada suami yang selalu mengajarkan 'Dancing In The Rain', alih2 menggerutu soal kehidupan ini, kami mencoba menikmati apa yang sedang terjadi saat ini sambil bersyukur dan menginstropeksi diri.


Terimakasih untuk suamiku, pria yang selalu berusaha mencari nafkah untuk menghidupiku dan anak kami dengan baik, perjuanganmu tidak akan sia-sia sebab Tuhan beserta.


Terimakasih kepada masing2 ego kami, tanpa kalian kami tidak akan belajar untuk merendah dan pengertian terhadap pasangan, sungguh berat untuk akhirnya kami menaklukkan ego kami..


Meski kebahagiaan pernikahan ini tak banyak yang bisa dipamerkan di sosial media, tapi semakin hari kami semakin menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya berasal dari perasaan, dan tak perlu digembar gemborkan memang..


Bahagiaku saat melihatnya pulang dalam keadaan baik..

Bahagiaku saat melihatnya berdoa untuk keluarga kecil kami..

Bahagiaku saat melihatnya sehat dan ceria..

Bahagiaku saat kami bisa sama2 tertawa lepas ketika ada yang kentut apalagi kalau baunya basin..

Bahagiaku saat kami berebut chiki kesukaan sebelum menonton tv bersama.

Bahagiaku ternyata cuma sekedar kebersamaan dan tertawa bersama, menikmati hari demi hari dan melewati masalah demi masalah..


Hei suamiku, kau tak perlu menghadiahiku dengan seperangkat perhiasan mewah, mobil, rumah, liburan impian, cukup menjadi dirimu yang sekarang saja sudah membuatku teramat sangat bahagia dan bersyukur menjadi istrimu.

Cukup dengan melihatmu selalu sehat, dan ceria, kuharap Tuhan memberikan kita umur yang panjang untuk menjadi tua bersama dan mengantarkan anak kita ke altar pernikahannya..


Kami jauh dari kata pasangan ideal atau sempurna, pada kehidupan nyata kami sering berbeda pendapat yang berujung pada pertengkaran. Hanya dengan komunikasi yang baik kami bisa kembali akur setelah sedikit perang.


Kami tidak akan menjadi sempurna, kami hanyalah dua orang yang berbeda, yang mencoba bersama dan saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan yang telah Tuhan beri.


Hai anak perempuanku, Jocelyn..

Tak apa nak jika nantinya suamimu bukan golongan orang kaya secara materi, karena materi memang bonus. 

Carilah suami yang takut akan Tuhan, karena itu sudah melebihi segalanya.

Mama berdoa kau akan mendapatkan suami yang paling enggak, kadar kedewasaannya mirip papamu..


Bukan semoga, tapi aku yakin keluarga kecil kami akan selalu bahagia, meski jalan kehidupan kedepan akan berat, tapi kami bertiga akan terus belajar 'dancing in the rain..'


Kiranya teman2 yang sudah membaca blog ini juga diberikan kebahagiaan dalam kehidupan.


Turunkan ekspetasi, belajarlah berdamai dengan realita dan mulai cari hal kecil yang bisa disyukuri and then you will be surprised! 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Little Heaven

Kadang aku berpikir, apakah Tuhan itu ada? Benarkah DIA baik? Tapi kenapa jika DIA baik, mujizat itu tidak terjadi kepada Leon, anak pertama kami yang masih berusia 8 bulan. Jika DIA ada, kenapa anak lain mendapat mujizat kesembuhan itu, sementara Leon tidak? Jika memang Tuhan baik, kenapa DIA begitu cepat mengambil Leon dari hidup kami. Katanya Tuhan mendengar doa umatNYA yang sungguh-sungguh mencari DIA, tapi kenapa doaku tidak didengar? Apakah aku terlalu berdosa sehingga DIA tidak berkenan mendengar dan mengabulkannya. Pertanyaan diatas sering sekali muncul dalam benakku pada awal kepergian Leon. Kenapa kenapa kenapa dan kenapa!! Ya, ternyata Tuhan memang tidak bisa diselami oleh keterbatasan manusia. Pada akhirnya aku paham betul, bahwa memang Tuhanlah penulis kehidupan kita. DIA yang menentukan segala cerita kehidupan yang kita alami. CHAPTER 1 SURPRISE!!! Welcome baby Leon 8 Juli 2018 // SC // 3,29kg // 50cm // RSUD Dr. Soetomo Surabaya Kelahiran Leon adalah kel...

Hadiah dari Tuhan

4 bulan setelah kepergian Leon , tidak kusangka aku hamil..! Iya hamil!! Padahal kala itu aku dan suami baru memulai program hamil dengan rutin minum asam folat setiap pagi. Dokter menyarankan minimal 3 bulan sebelum kehamilan aku dan suami harus rutin minum asam folat untuk mempersiapkan kehamilan yang lebih sehat. Tapi 3 bulan apanya! Baru juga kurang dari 10 hari kami merutinkan minum asam folat, lha kok jadwal yang seharusnya aku mens ini mendadak telat sampai 1 minggu. Antara senang dan cemas, itulah yang kurasakan ketika kulihat testpack menunjukkan 2 garis merah. Senang, karena Tuhan mengizinkan kami sekali lagi untuk menjadi calon orang tua. Cemas, karena aku merasa bukan waktu yang tepat untuk hamil soalnya baru 10 harian rutin minum asam folat. Pikiranku kacau membayangkan bagaimana nasib calon dedeknya Leon yang mendadak ada di rahimku, jujur, aku takut kelainan jantung itu terulang kembali karena bagaimanapun juga resiko untuk kelainan jantung itu pasti ada mengingat ada ri...

And i have lived in the goodness of God

Sudah sangat lama aku tidak menulis di blog ini lagi. Waktuku banyak tersita karena pekerjaanku termasuk hal mengurus anak. Memang ya jika sudah menyandang status sebagai ibu, bisa makan mie kuah yang masih hangat atau bisa mandi keramas + bolot bolot, itu adalah prestasi me time yang luar biasa. Jadi harap maklum jika jarang menulis di blog ini lagi. Ah tapi itu cuma alasan aja sih wkwkwkwk.. Karena sejujurnya aku pernah berada di titik minder sampai terlalu malu untuk menulis lagi. Yaaa semacam ada perasaan : lha apa yang harus kutulis?! Tidak ada hal spektakuler dalam hidupku untuk diceritakan lagi. Bahkan untuk apa Tuhan menghadirkan aku di dunia ini pun sering kupertanyakan.. Untuk apa Tuhan KAU ciptakan aku? Iya.. untuk apa? Gagal paham aku mengenai rencanaMu. Ketika aku melihat keadaan sekitarku, mereka telah banyak berubah. Teman, saudara, kenalan, satu per satu yang dulunya hidup susaaahhhhhhh miskinnnn, pelan2 Tuhan angkat kehidupan mereka. Kesuksesan demi kesuksesan telah me...